Oleh: Tim Liputan
IBMNews.co.id, Tanjung Selor — M. Yusuf menarik napas panjang ketika melihat kembali deretan rumah yang kini hanya tinggal puing. Ketua RT 14 Jalan Tanjung Rumbia ini masih ingat betul detik-detik ketika api dengan rakus melahap empat unit rumah dan satu kios di wilayahnya.
“Semua terjadi begitu cepat,” ujarnya lirih.
Waktu itu, warga hanya bisa terpaku, menyaksikan kepulan asap hitam membubung tinggi. Tidak ada yang sempat menyelamatkan barang berharga. Baju, dokumen, mainan anak-anak, semuanya ludes dalam sekejap.
Lima kepala keluarga harus kehilangan tempat berlindung. 17 jiwa, termasuk dua balita, kini harus memulai hidup dari nol.
Namun pagi itu, Rabu (29/07/26), suasana berbeda terasa di lokasi kebakaran. Puluhan kardus dan karung berwarna-warni tiba di Jalan Tanjung Rumbia. Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulungan datang tidak dengan tangan kosong.

Sri Nurhandayani Syarwani, Ketua TP PKK Kabupaten Bulungan bersama rombongan, turun langsung ke lokasi. Bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga menyapa, mendengar, dan memeluk kesedihan warga dengan kata-kata penuh empati.
“Musibah kebakaran terjadi begitu cepat sehingga para korban tidak sempat menyelamatkan barang-barang pribadi mereka,” katanya dengan nada lembut namun penuh ketegasan.
“Semoga para korban diberikan kekuatan dan dapat segera bangkit kembali.”
Di dalam bantuan yang diserahkan itu, tersimpan lebih dari sekadar barang kebutuhan.
Ada perlengkapan tidur, agar anak-anak yang ketakutan itu bisa kembali merebahkan badan dengan nyaman. Ada peralatan rumah tangga, sekecil apa pun, ia adalah awal dari dapur yang akan kembali mengepulkan asap, kali ini asap kehidupan, bukan kebakaran.

Ada susu untuk balita, karena tangis bayi yang lapar tak kenal musibah. Ada paket kebutuhan pokok—untuk mengisi perut yang sejak malam kejadian hanya mengandalkan uluran tetangga.
Abdul Bassir, salah seorang korban, hampir tak kuasa menahan haru. Tangannya gemetar saat menerima bantuan.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih… Musibah ini membuat kami kehilangan hampir seluruh harta benda, sehingga bantuan ini sangat membantu dan menjadi penyemangat bagi kami untuk memulai kembali kehidupan,” ucapnya dengan suara bergetar. Di balik matanya yang sayu, ada cahaya kecil yang mulai muncul kembali.
Lurah Tanjung Selor Hulu, Yudi Rachmanah, yang turut menyaksikan penyerahan bantuan, mengangguk kagum.
“Ini menunjukkan semangat gotong royong serta solidaritas kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah. Semoga bantuan ini membawa manfaat dan menjadi penyemangat bagi para korban untuk bangkit kembali, kami sangat berterima kasih kepada PKK Kabupaten Bulungan, yang sudah membantu warga kami yang terkena musibah” tuturnya.
Usai menyerahkan bantuan, Sri Nurhandayani tidak segera beranjak. Ia memilih berdialog dengan warga sekitar. Matanya menatap bangunan yang masih dipasangi garis polisi. Tangan-tangan kecil balita korban kebakaran mulai meraih jari-jarinya.
Dalam suasana yang masih menyisakan duka itu, Ketua TP PKK Kabupaten Bulungan menyempatkan diri berbincang lebih lama dengan para korban. Di sela-sela dialognya, ia menuturkan sesuatu yang menggetarkan hati, sebuah pesan yang bukan sekadar kata-kata penghibur, melainkan penguat jiwa bagi mereka yang sedang terjatuh.
“Kami datang bukan hanya dengan barang-barang ini,” ujar Sri Nurhandayani dengan mata berkaca-kaca, menatap wajah-wajah lesu di hadapannya.
“Kami datang dengan keyakinan bahwa setiap jiwa yang terguncang berhak mendapatkan uluran tangan. Kami tahu, kehilangan rumah bukan hanya kehilangan atap. Ini kehilangan tempat bernaung, kehilangan kenangan, kehilangan rasa aman. Dan ketika jiwa terguncang, yang paling dibutuhkan bukan sekadar benda, tapi kehadiran kehadiran yang mengatakan ‘kamu tidak sendirian’.”
Ia melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar, namun tetap tegas,
“Kepada ibu-ibu yang kehilangan peralatan dapur, kepada bapak-bapak yang kehilangan mata pencaharian, kepada anak-anak yang kehilangan kamar tidurnya, kami ingin kalian tahu bahwa PKK hadir untuk memeluk kalian. Kami mungkin tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang, tapi kami akan berusaha menjadi bagian dari proses kalian untuk bangkit. Jangan menyerah. Karena setiap pagi yang baru adalah kesempatan untuk memulai ulang.”
“Dan kepada para balita yang masih belum mengerti apa yang terjadi, kami titipkan susu ini sebagai simbol bahwa masa depan kalian masih manis. Kami tidak akan membiarkan generasi penerus ini tumbuh dalam kepedihan tanpa uluran kasih.”
Wanita yang akrab disapa Ibu Sri itu kemudian menggenggam erat tangan seorang ibu korban kebakaran yang tampak sedih. Tanpa banyak kata, ia hanya berbisik:
“Bangkitlah pelan-pelan. Tidak apa-apa jika langkahmu kecil. Yang penting, kau tidak berjalan sendiri.”
Pernyataan itu sontak membuat suasana hening. Beberapa korban tak kuasa menahan air mata, bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena tersentuh oleh kehadiran yang begitu manusiawi.
Seorang ibu paruh baya, korban kebakaran yang enggan disebutkan namanya, mengusap pipinya yang basah. Ia menggenggam erat bingkisan yang diterimanya, seolah memeluk sebuah janji.
“Ibu Ketua PKK tadi bilang, ‘jangan lihat ke belakang dengan penyesalan, lihat ke depan dengan pengharapan’. Saya tidak akan lupa kata-kata itu,” ujarnya lirih kemudian.
M. Yusuf, Ketua RT 14 yang sejak awal menemani proses penyaluran bantuan, mengaku terenyuh dengan pendekatan personal yang dilakukan Ketua TP PKK.
“Saya sudah bertahun-tahun jadi ketua RT, sering melihat penyaluran bantuan. Tapi hari ini berbeda. Bu Sri tidak hanya memberi, ia juga mendengar. Ia duduk di antara kami, mendengar cerita satu per satu, bahkan mengingat nama-nama korban. Itu yang membuat kami benar-benar merasa diperhatikan,” katanya dengan suara bergetar.
“Yang membuat saya paling terharu, beliau sempat berkata kepada kami: ‘Pak RT, tolong sampaikan ke warga, bahwa kehilangan harta memang menyakitkan, tapi kehilangan semangat adalah yang terburuk. Kami akan terus mendampingi sampai mereka benar-benar berdiri lagi.’ Kalimat itu, bagi saya, adalah obat bagi jiwa-jiwa yang hancur.”
Di tengah percakapan itu, seorang balita korban kebakaran, yang masih polos dengan kedua orang tuanya yang sedang berusaha tegar, tiba-tiba mendekati Ketua PKK. Sri Nurhandayani tersenyum, lalu menggenggam tanganya dengan lembut.
“Lihatlah senyum ini. Anak-anak ini adalah alasan kita harus terus bergerak. Mereka belum mengerti arti kehilangan, tapi mereka akan mengerti arti kasih sayang. Dan kasih sayang itulah yang hari ini kami bawa,” ucapnya sambil mencium kening si balita.
Di Situlah, di Tengah Abu dan Puing, Hadir Sebuah Pelukan yang Tak Kasat Mata
Bukan sekadar bantuan, ini adalah pengingat bahwa tak ada yang benar-benar sendiri saat sedang jatuh.
Sri Nurhandayani menutup kunjungannya dengan pesan terakhir yang menggema di hati setiap yang mendengar.
“Musibah adalah ujian, tapi kebersamaan adalah jawabannya. Kami di PKK tidak akan pernah lelah hadir. Karena setiap kali ada saudara yang jatuh, di situlah kami harus berdiri. Jangan biarkan kepedihan membutakan mata hati kalian,masih ada banyak tangan yang siap mengulurkan. Dan di antara tangan-tangan itu, ada tangan PKK Bulungan yang selalu terbuka untuk kalian . Bersama, kita bangun kembali. Perlahan. Pasti.”
Di Tanjung Rumbia, api telah padam. Namun semangat kebersamaan justru menyala lebih terang.
“Sebab ketika satu orang jatuh, ada tangan lain yang siap mengulurkan. Dan di Bulungan, tangan itu adalah milik kita semua.”
Di balik abu yang menghitam, tunas pengharapan mulai tumbuh, disiram oleh kepedulian, dipupuk oleh kehadiran, dan dijaga oleh janji untuk tidak pernah meninggalkan.***


