IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan mulai menyiapkan fondasi regenerasi petani melalui pengembangan Agrokompleks Integrated Area Development (IAD) Lanskap Kayan di Kecamatan Peso.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Sekolah Lapangan Agrokompleks IAD Lanskap Kayan yang dipusatkan di Desa Long Buang. Program ini menjadi pilot project pertama di Kabupaten Bulungan dengan menempatkan generasi muda sebagai salah satu aktor utama dalam pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.
Bupati Bulungan Syarwani mengatakan, pembangunan pertanian tidak bisa hanya berbicara mengenai peningkatan produksi dan luasan lahan. Lebih dari itu, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan sumber daya manusia yang akan mengelola sektor tersebut pada masa mendatang.
Menurutnya, regenerasi petani menjadi tantangan yang harus mulai dijawab sejak sekarang. Sebab, sektor pertanian membutuhkan generasi baru yang memiliki kemampuan mengelola usaha tani, memahami teknologi serta mampu melihat pertanian sebagai sebuah peluang ekonomi.
“Kita ingin pembangunan pertanian dan perkebunan di Bulungan tidak hanya dijalankan oleh orang tua kita, tetapi harus ada regenerasi,” kata Syarwani, Minggu, (6/9/26)
Ia menilai, anak-anak muda di wilayah pedesaan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Mereka tidak hanya perlu diberikan pengetahuan mengenai teknik bercocok tanam, tetapi juga pemahaman mengenai bagaimana mengelola pertanian sebagai sebuah usaha yang produktif.
“Anak-anak muda harus punya kapasitas dan kemampuan mengelola kegiatan pertanian secara profesional. Dengan begitu, pertanian bisa menjadi sumber kesejahteraan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tegasnya.
Sekolah Lapangan IAD Lanskap Kayan melibatkan 10 desa yang berada di Kecamatan Peso. Setiap desa mengirimkan tiga pemuda lokal sebagai peserta. Dengan demikian, terdapat sekitar 30 pemuda yang menjadi peserta awal dalam program percontohan tersebut.
Para peserta tidak hanya mendapatkan materi di dalam ruang pembelajaran. Mereka dijadwalkan mengikuti delapan kali pertemuan yang menggabungkan teori dan praktik langsung di lapangan.
Pemkab Bulungan menggandeng akademisi serta berbagai pihak untuk memberikan pembekalan kepada para peserta. Salah satunya melalui keterlibatan pakar pertanian dari Tani Nelayan Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M.Sc. Selain itu, kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Bulungan Kilat, jajaran perangkat daerah terkait, perwakilan NGO, Rektor Universitas Kaltara serta unsur lainnya.
Syarwani mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi dan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun model pertanian yang sesuai dengan karakteristik wilayah Peso.
“Ini bukan hanya kegiatan pemerintah. Kita ingin ada kolaborasi dengan perguruan tinggi, masyarakat, NGO dan pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi,” ujarnya.
Menurut dia, pendekatan pembangunan pertanian di wilayah perdesaan juga tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat.
Teknologi dan metode pertanian modern, kata Syarwani, harus dapat berjalan beriringan dengan pengalaman serta kearifan lokal masyarakat.
“Kita tidak ingin pengetahuan lokal yang sudah ada ditinggalkan. Justru pengetahuan dan pengalaman masyarakat harus dipadukan dengan teknologi dan pengetahuan baru,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat setiap wilayah memiliki karakteristik lahan, iklim, komoditas dan pola pengelolaan yang berbeda. Karena itu, inovasi yang diberikan melalui Sekolah Lapangan diharapkan tidak berhenti pada teori, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.
Syarwani berharap, 30 pemuda yang mengikuti program tersebut nantinya tidak hanya menjadi peserta pelatihan. Mereka diharapkan menjadi penggerak di desa masing-masing.
“Pemuda yang mengikuti program ini harus menjadi aset berharga bagi desa. Setelah mendapatkan ilmu, saya berharap mereka bisa menggerakkan potensi yang ada di desa masing-masing,” pesannya.
Ia menekankan, keberhasilan Sekolah Lapangan tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta maupun banyaknya pertemuan yang dilaksanakan.
Ukuran keberhasilannya, kata dia, justru terlihat setelah para peserta kembali ke desa dan mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
“Yang paling penting bukan berapa kali pertemuan dilakukan, tetapi setelah mereka pulang, apa yang bisa dilakukan dan dikembangkan di desa,” katanya.
Program IAD Lanskap Kayan dirancang sebagai pendekatan pembangunan kawasan yang mengintegrasikan berbagai potensi agrokompleks. Karena itu, peserta tidak hanya diarahkan memahami aspek budidaya, tetapi juga didorong mengenali potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di wilayahnya.
Syarwani mengatakan, pola pikir generasi muda terhadap sektor pertanian juga perlu diubah. Pertanian tidak boleh lagi dianggap semata-mata sebagai pekerjaan tradisional yang hanya mengandalkan tenaga dan pengalaman turun-temurun.
“Pertanian harus kita dorong menjadi sebuah kegiatan ekonomi yang dikelola secara profesional,” ujarnya.
Dengan penguasaan teknologi, manajemen usaha dan pemahaman terhadap potensi pasar, generasi muda diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.
“Anak muda harus melihat bahwa sektor pertanian memiliki masa depan. Ada peluang usaha, ada peluang meningkatkan pendapatan dan ada peluang untuk membangun desa,” lanjutnya.
Karena itu, pemerintah daerah berharap para peserta dapat menjadi embrio lahirnya petani-petani muda di Kecamatan Peso.
Mereka nantinya tidak hanya menjadi pelaku usaha tani secara individual, tetapi juga diharapkan mampu mengajak pemuda lainnya untuk terlibat dalam pengembangan sektor pertanian.
“Jangan sampai ilmu yang diperoleh hanya berhenti pada diri sendiri. Harus ada proses berbagi dan menggerakkan masyarakat di desa,” pesan Syarwani.
Pemkab Bulungan menargetkan Sekolah Lapangan IAD Lanskap Kayan dapat menjadi model awal pengembangan pertanian terpadu yang nantinya bisa direplikasi di wilayah lain.
Syarwani mengatakan, Peso memiliki potensi yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara terencana dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
“Kita ingin melihat potensi yang ada di kawasan ini bisa dikelola secara lebih baik. Pemerintah memberikan dukungan, tetapi masyarakat harus menjadi pelaku utamanya,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja. Diperlukan keterlibatan berbagai perangkat daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha serta organisasi yang memiliki perhatian terhadap pembangunan pertanian.
“Ini membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kita perlu akademisi, masyarakat dan seluruh pihak yang memiliki kepentingan dalam membangun pertanian,” tuturnya.
Program tersebut juga diselaraskan dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bulungan.
Dengan pola tersebut, pengembangan pertanian diharapkan tidak berjalan secara parsial, tetapi terintegrasi mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan lahan, produksi, pengembangan usaha hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Harapan kita, apa yang dimulai di Long Buang ini bisa berkembang. Kalau berhasil, tentu bisa kita lihat untuk dikembangkan di wilayah lainnya,” pungkas Syarwani.***(IBM02)


