IBMNews.co.id, Tarakan – Kesunyian di sebuah rumah di kawasan Juata Laut, Tarakan, Kalimantan Utara, bukan berarti tanpa cerita. Di rumah itu, Klara (32) bersama suaminya, Yudha (34), menjalani hari-hari penuh kesabaran dalam mendampingi tumbuh kembang putra mereka, Mirza, yang dalam hitungan hari akan genap berusia enam tahun.
Mirza merupakan anak dengan spektrum autisme non-verbal (Autism Spectrum Disorder/ASD). Kondisi tersebut membuat komunikasi dan proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi kedua orang tuanya.
Bagi Klara dan Yudha, mendampingi Mirza bukan perjalanan yang singkat. Sejak usia dini, mereka harus menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kondisi kesehatan, pola makan, hingga proses tumbuh kembang yang membutuhkan perhatian khusus.
Klara mengaku, sejak awal kehidupan Mirza, kondisi kesehatan sang anak cukup rentan. Riwayat pemberian ASI yang kurang saat lahir menjadi salah satu persoalan yang mereka hadapi. Seiring pertumbuhan, Mirza juga mengalami masalah dalam pola makan karena cenderung sangat memilih makanan atau dikenal sebagai picky eater.
Kondisi itu membuat Klara dan Yudha berusaha mencari berbagai cara agar kebutuhan kesehatan dan tumbuh kembang Mirza tetap terpenuhi.
Berbagai upaya pun dilakukan. Mulai berkonsultasi secara rutin dengan Dokter Spesialis Anak (DSA), mendatangi psikolog, hingga memasukkan Mirza dalam bimbingan khusus untuk anak berkebutuhan khusus.
Pemantauan tumbuh kembang, berat badan dan kebutuhan gizi juga dilakukan secara berkala melalui puskesmas terdekat.
“Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Mirza. Kami membimbingnya dengan sabar agar kelak dia bisa mengurus dirinya sendiri,” kata Klara.
Bagi Klara, rutinitas menjadi bagian penting dalam keseharian Mirza. Sejak usia dua tahun, pola tidur sang anak mulai dilatih agar lebih teratur.
Klara pun terbiasa mendampingi Mirza hingga pagi hari. Pendampingan tersebut dilakukan tanpa menggunakan obat tidur, sembari memberikan berbagai aktivitas sensorik yang dapat dilakukan di rumah.
Persoalan lain yang tidak kalah menantang adalah makanan. Mirza memiliki pilihan makanan yang cukup terbatas dan lebih menyukai makanan berbahan daging serta telur. Kondisi itu membuat Klara harus memperhatikan keseimbangan menu hariannya.
Ia berusaha mengimbangi makanan yang disukai Mirza dengan sayuran, seperti wortel dan kentang, sehingga kebutuhan nutrisinya tetap diperhatikan.
Namun, perjuangan Klara bukan hanya berkaitan dengan kesehatan dan pola makan. Sebagai seorang ibu, kekhawatiran terhadap keselamatan dan lingkungan pergaulan anak juga menjadi bagian dari kesehariannya. Klara pernah menghadapi situasi ketika Mirza mengalami perundungan maupun kekerasan dari teman sebaya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan bagi Klara dan Yudha untuk mempersiapkan lingkungan pendidikan yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan Mirza.
Orangtua Mirza berencana menyekolahkan sang anak di Sekolah Luar Biasa (SLB) mulai tahun depan. Bagi Klara, mendampingi anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit. Ada rasa lelah, khawatir, dan cemas yang datang silih berganti.
Namun, ia memilih untuk menerima kondisi sang anak dan terus mendampinginya.
Klara menyadari, setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda. Karena itu, ia tidak ingin memaksakan Mirza untuk berkembang dengan ukuran yang sama seperti anak-anak lainnya.
Baginya, setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan Mirza merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
“Kami belajar untuk ikhlas dan menerima kondisi Mirza. Yang penting bagi kami, dia bisa tumbuh dengan baik, merasa aman, dan suatu hari nanti mampu mandiri,” tuturnya.
Perjalanan Klara dan Yudha mendampingi Mirza masih panjang. Mereka tidak mengetahui seperti apa perjalanan sang anak beberapa tahun ke depan.
Namun, satu hal yang terus mereka pegang: Mirza akan selalu memiliki tempat untuk pulang, tempat untuk belajar, dan orang tua yang bersedia mendampinginya.
Di tengah keterbatasan komunikasi yang dimiliki Mirza, Klara belajar memahami bahasa lain—bahasa yang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata, tetapi melalui gerak, kebiasaan, ekspresi, dan kedekatan.
Dari rumah sederhana di Juata Laut, perjuangan keluarga kecil itu menjadi gambaran bahwa mendampingi anak berkebutuhan khusus bukan sekadar tentang menghadapi keterbatasan.
Lebih dari itu, ada kesabaran, penerimaan, serta harapan orang tua agar anaknya kelak mampu menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.***



