IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Semangat gotong royong ditunjukkan masyarakat Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan. Melalui Tim Swadaya Percepatan Pembangunan Desa Atap, warga berhasil membuka badan jalan sepanjang 11,514 kilometer dengan lebar sekitar 20 meter yang menghubungkan kawasan Gunung Sengkepian hingga perbatasan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
Pekerjaan tersebut dilakukan sepenuhnya dengan swadaya masyarakat tanpa menggunakan anggaran pemerintah. Pembukaan jalan dimulai sejak 31 Mei 2026 sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kebutuhan akses transportasi yang selama ini dinilai masih terbatas.
Ketua Tim Swadaya Percepatan Pembangunan Desa Atap, Samsun S. Abjiah, mengatakan seluruh proses dikerjakan secara mandiri oleh masyarakat yang memiliki keinginan kuat membuka keterisolasian wilayah.
“Semua pekerjaan dilakukan secara swadaya tanpa bantuan dana dari pemerintah. Kami bergerak bersama karena masyarakat memang membutuhkan akses jalan yang lebih baik,” ujarnya Senin (27/07/26).
Ia menjelaskan, pembukaan badan jalan tersebut merupakan kelanjutan dari rencana pembangunan koridor Sembakung–Tidung Pale sepanjang kurang lebih 19,5 kilometer yang sebelumnya telah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Utara. Bahkan, sebagian jalur menuju kawasan perbatasan Nunukan–Tana Tidung telah lebih dulu dibuka sejak 2018.
Menurut Samsun, keberadaan jalan tersebut nantinya diharapkan mampu membuka konektivitas antarwilayah sekaligus mempermudah aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan.
“Kami hanya melanjutkan rencana yang sudah ada. Harapan kami akses menuju wilayah perbatasan semakin terbuka sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah,” katanya.
Apabila jalan tersebut telah berfungsi secara maksimal, waktu tempuh dari Sembakung menuju Tanjung Selor diperkirakan dapat dipersingkat menjadi sekitar empat hingga lima jam. Saat ini perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar sembilan hingga sepuluh jam melalui rute yang digunakan masyarakat.
“Kalau jalannya sudah benar-benar fungsional, perjalanan akan jauh lebih cepat. Tentu ini akan sangat membantu mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar distribusi hasil pertanian,” jelasnya.
Selain memperjuangkan pembangunan jalan, masyarakat juga mengusulkan adanya program transmigrasi lokal berbasis ketahanan pangan.
Usulan tersebut muncul karena Desa Atap merupakan salah satu wilayah yang kerap terdampak banjir sehingga diperlukan kawasan baru yang lebih aman untuk mendukung aktivitas pertanian.
“Kami mengusulkan program transmigrasi lokal karena Desa Atap sering mengalami banjir. Harapannya kawasan baru nantinya bisa menjadi sentra ketahanan pangan masyarakat,” ungkapnya.
Saat ini sedikitnya terdapat 11 kelompok tani di Kecamatan Sembakung yang mengembangkan berbagai komoditas, seperti kakao dan tanaman palawija, di sekitar trase jalan yang sedang dibuka. Dengan tersedianya akses yang lebih baik, masyarakat berharap distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar dan berdampak pada peningkatan pendapatan petani.
“Dengan adanya jalan ini, hasil perkebunan maupun pertanian masyarakat akan lebih mudah dipasarkan sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani,” ujarnya.
Samsun menambahkan, seluruh aspirasi masyarakat terkait percepatan pembangunan akses jalan serta usulan transmigrasi lokal dijadwalkan dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kalimantan Utara pada Selasa (28/07/26).

“Kami berharap DPRD dan pemerintah dapat memberikan dukungan agar perjuangan masyarakat ini mendapat tindak lanjut. Jalan ini bukan sekadar membuka akses, tetapi juga menjadi fondasi untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan mendukung ketahanan pangan di wilayah perbatasan,” pungkasnya.***(IBM02)



