IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Ada yang berbeda di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Utara, Senin (30/3/26) pagi. Setelah hiruk-pikuk silaturahmi dan reuni keluarga usai Lebaran, denyut nadi birokrasi kembali berdetak kencang. Lapangan Agatis yang pagi itu disapu cahaya matahari kalimantan berubah menjadi saksi bisu komitmen baru. Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Kaltara, H. Denny Harianto, berdiri tegas di hadapan ribuan aparatur sipil negara (ASN) dan non-ASN. Bukan sekadar apel biasa, ini adalah reset mental setelah jeda panjang.
Tepat pukul 08.00 Wita, suasana khidmat menyelimuti pelataran. Barisan pejabat tinggi pratama, staf ahli, hingga para asisten dan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tampak kompak. Mereka baru saja melewati masa libur dan kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang berjalan hampir sebulan. Namun, Sekprov Denny ingin memastikan bahwa kelonggaran itu tidak berubah menjadi kendor. Baginya, momen ini adalah titik nol untuk melesat lebih jauh.
“Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” sapanya membuka arahan dengan nada hangat yang segera berubah menjadi serius. Ia tak ingin euforia kemenangan usai menahan lapar dan haus selama Ramadan hanya menjadi euforia sesaat. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa ibadah puasa adalah pabrik pembentuk karakter yang harus beroperasi terus sepanjang tahun.
“Ramadan telah mengajarkan kita untuk disiplin menahan diri, sabar, dan ikhlas. Pertanyaannya sekarang, apakah itu hanya kita tinggalkan begitu saja setelah kita bertakbir?” ujarnya menggugah para peserta apel yang berdiri rapi.
Menurutnya, ujian sesungguhnya bagi seorang aparatur justru dimulai setelah lonceng kemenangan berbunyi. Ia secara gamblang menyebut bahwa tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi antara kualitas spiritual yang meningkat saat puasa dengan etos kerja di lapangan. Ia mengingatkan agar jangan sampai ada penurunan kinerja yang drastis pasca libur. Disiplin, baginya, adalah harga mati.
“Kita melayani masyarakat, bukan melayani keinginan diri sendiri. Liburan sudah selesai, sekarang saatnya menunjukkan bukti bahwa kita adalah aparatur yang profesional,” tegas Denny dengan intonasi yang memotivasi.
Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Denny itu juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas implementasi kebijakan WFA yang diterapkan kurang dari satu bulan terakhir. Ia menilai pola kerja fleksibel tersebut justru menjadi indikator kedewasaan birokrasi di Bumi Benuanta. Efisiensi energi listrik di perkantoran tercatat meningkat signifikan, menunjukkan bahwa produktivitas tak lagi diukur dari lama duduk di kursi kantor, melainkan dari hasil yang dicapai.
Namun, di balik pujian itu, ia menyisipkan pesan keras. Fleksibilitas bukan berarti melonggarkan tanggung jawab. “Saya lihat WFA berjalan baik. Itu bukti kita adaptif. Tapi jangan sampai kebijakan ini membuat kita lupa bahwa tugas utama kita adalah hadir untuk menyelesaikan urusan masyarakat. Jika ada yang memaknai WFA sebagai ‘hari libur panjang’, saya ingatkan, itu keliru,” katanya menegaskan.
Puncak pesan moral dari apel perdana ini adalah soal menjaga “Spirit Ramadan”. Denny mengajak seluruh barisan birokrasi untuk menjadikan nilai-nilai luhur yang ditempa selama 30 hari sebagai fondasi permanen. Ia menggarisbawahi betapa sulitnya ikhlas dan saling memaafkan jika hanya diucapkan di permukaan. Membangun lingkungan kerja yang sehat, menurutnya, membutuhkan fondasi hati yang bersih—warisan paling berharga dari bulan Ramadan.
“Hal sederhana seperti memaafkan kadang terasa sangat berat karena ego. Ramadan mengajarkan kita untuk melepas itu. Maka, jangan biarkan ego kembali menguasai kita setelah Idulfitri. Jadikan kantor ini sebagai rumah kedua yang nyaman, karena kita saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” pesannya penuh makna.
Mengakhiri arahannya yang berlangsung sekitar 20 menit itu, Denny menitipkan harapan besar. Ia ingin kebiasaan bangun pagi untuk sahur, kedisiplinan waktu, serta kepekaan sosial yang tumbuh selama Ramadan berlanjut menjadi habit baru dalam birokrasi. Sebelas bulan ke depan adalah medan juang yang lebih panjang.
“Jangan sampai Ramadan hanya meninggalkan catatan ibadah di bulan ketiga, tapi meninggalkan jejak integritas di 11 bulan lainnya. Mari kita buktikan bahwa ASN Kaltara bukan hanya profesional, tapi juga berakhlak. Mari kita kerja dengan hati, karena hati yang ikhlas akan melahirkan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” pungkasnya disambut derap langkah tegas para peserta apel yang kembali tersebar ke ruang kerja masing-masing, membawa semangat baru yang diyakini tak akan padam hingga Ramadan berikutnya tiba.***(Randa)

