IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten Bulungan terus mematangkan pembangunan Kebun Raya Bunda Hayati di Tanjung Selor sebagai destinasi unggulan yang diproyeksikan menjadi ikon baru daerah. Selain difungsikan sebagai ruang terbuka hijau, kawasan ini disiapkan sebagai pusat konservasi, edukasi, penelitian, sekaligus wisata keluarga.
Bupati Bulungan, Syarwani, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan optimal sebelum diluncurkan secara resmi kepada publik.
“Kita ingin Kebun Raya Bunda Hayati benar-benar siap, baik dari sisi infrastruktur, penataan kawasan, koleksi tanaman, hingga fasilitas pendukungnya. Jangan sampai kita resmikan dalam kondisi belum maksimal,” ujar Syarwani saat ditemui Senin (23/02/26)
Menurutnya, pembangunan kebun raya ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi jangka panjang dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keanekaragaman hayati.
“Ini bukan hanya tempat rekreasi. Kita siapkan sebagai kawasan konservasi, hutan edukasi, dan hutan penelitian. Pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum bisa belajar langsung tentang flora khas daerah, termasuk tanaman endemik Kalimantan,” tegasnya.
Namun di tengah progres pembangunan, Pemkab Bulungan menerima laporan adanya dugaan perusakan oleh oknum pengunjung. Sejumlah tanaman, termasuk beberapa koleksi anggrek, dilaporkan hilang dari area kebun raya.
“Kami sangat menyayangkan adanya laporan pengambilan anggrek oleh oknum pengunjung. Ini jelas merugikan karena tanaman tersebut merupakan bagian dari koleksi konservasi,” ungkap Syarwani.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah untuk sementara membatasi tingkat kunjungan ke kawasan Kebun Raya Bunda Hayati. Selain itu, petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turut dikerahkan untuk melakukan penjagaan dan pengawasan lebih ketat.
“Kita batasi dulu kunjungan sambil melakukan evaluasi sistem pengamanan. Satpol PP sudah kita siagakan untuk berjaga, agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Ia menegaskan, tindakan pengambilan tanaman di kawasan konservasi bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga berpotensi melanggar aturan yang berlaku.
“Kalau ini terus terjadi, tentu akan menghambat tujuan utama kita membangun kebun raya sebagai pusat konservasi. Kami tidak ingin fasilitas dan koleksi yang sudah disiapkan dengan anggaran daerah justru rusak oleh ulah segelintir orang,” tambahnya.
Ikon Baru dan Kebanggaan Daerah
Lebih jauh, Syarwani menuturkan bahwa Kebun Raya Bunda Hayati diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan sektor pariwisata di Kalimantan Utara, sekaligus memperkuat identitas Bulungan sebagai daerah yang berkomitmen terhadap pembangunan berwawasan lingkungan.
“Kita ingin kebun raya ini menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bulungan. Tempat ini harus hidup, terawat, dan memberi manfaat ekonomi maupun edukasi,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menjaga dan merawat kawasan tersebut demi kepentingan bersama.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama menjaga Kebun Raya Bunda Hayati. Jangan dirusak, jangan mengambil tanaman, dan mari kita rawat bersama. Ini aset daerah, aset kita semua,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan kebun raya tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
“Kalau kita jaga bersama, kebun raya ini bisa berkembang menjadi pusat konservasi dan penelitian yang memberi kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan dan pengembangan ilmu pengetahuan di daerah,” pungkasnya.
Dengan berbagai pembenahan yang terus dilakukan serta penguatan pengawasan, Pemkab Bulungan optimistis Kebun Raya Bunda Hayati dalam waktu dekat siap diluncurkan secara resmi sebagai ruang hijau kebanggaan masyarakat.***(RM)


