IBMNews.co.id, Tarakan — Minggu sore di Kota Tarakan biasanya berjalan pelan. Orang-orang menikmati sisa akhir pekan, lalu lintas perlahan melambat, dan suasana kota terasa lebih santai dari hari-hari biasa. Namun sore itu, ada energi berbeda yang memenuhi jalanan. Puluhan seniman bergerak bersama, mengenakan kaus band favorit mereka, berjalan santai sambil bercanda dan tertawa di bawah cahaya matahari yang mulai condong ke barat.
Rock on the Street Vol. 4 kembali hadir. Kegiatan jalan santai yang digagas komunitas Musikal atau Musisi Kaltara itu, sekali lagi membuktikan bahwa musik bukan hanya tentang panggung dan dentuman suara keras. Di Tarakan, musik juga bisa menjadi ruang bertemu, ruang berbagi cerita, dan ruang untuk merasa sama-sama memiliki kota ini.
Sejak pukul 16.30 WITA, peserta mulai memadati titik kumpul. Anak muda, komunitas band, keluarga, hingga warga biasa tampak larut dalam suasana yang hangat. Ada yang datang berkelompok membawa semangat komunitasnya masing-masing, ada pula yang datang sendiri lalu dengan mudah melebur di tengah keramaian.
Tidak ada sekat di jalanan sore itu.
Di antara peserta, tampak Senator DPD RI daerah pemilihan Kalimantan Utara, Herman, S.H., ikut berjalan bersama masyarakat. Ia tidak sekadar hadir untuk membuka acara, tetapi benar-benar membaur menikmati suasana.
“Ini bukan cuma soal olahraga. Ini bukti bahwa anak-anak Tarakan punya cara sendiri untuk bersuara, untuk berkumpul,” ujarnya di sela kegiatan Minggu (17/05/26).
Menurut Herman, kegiatan seperti ini sekaligus mematahkan stigma lama yang kerap melekat pada komunitas musik dan anak band. Selama ini, musisi jalanan atau komunitas rock sering dipandang sebelah mata. Namun pemandangan Minggu sore itu justru menunjukkan hal sebaliknya.
Yang memenuhi jalanan adalah anak-anak muda kreatif, keluarga, dan masyarakat umum yang menikmati akhir pekan dengan cara sederhana namun penuh kebersamaan
Sepanjang rute jalan santai, suasana nyaris tak pernah sunyi. Gelak tawa terdengar di berbagai sudut. Beberapa warga yang melintas bahkan tampak berhenti sejenak, penasaran melihat ramainya peserta yang memadati jalanan kota.
Para peserta yang memulai start lampu merah ladang (ERES coffee), melewati rute taman oval ladang, kantor walikota, kemudian lewat samping kodim memutari stadion datu adil, menuju markoni dan finish kembali ke eres coffee.
lRock on the Street Vol. 4 terasa lebih dari sekadar agenda komunitas. Kegiatan ini berubah menjadi ruang publik yang hidup — tempat musik, olahraga, dan kebersamaan bertemu dalam frekuensi yang sama.
Ketua panitia, Boy Ramdan, mengatakan kegiatan tersebut memang sejak awal dirancang bukan hanya sebagai ajang kumpul komunitas musik.
“Ini bukan sekadar kumpul. Kami ingin mempererat komunikasi sesama musisi dan juga masyarakat Tarakan. Jalan santai ini olahraga, sehat, dan membawa manfaat,” katanya.
Sore perlahan berganti malam. Matahari turun meninggalkan semburat jingga di langit Tarakan, sementara peserta satu per satu mulai meninggalkan lokasi kegiatan dengan wajah lelah namun puas.
Panitia memang belum banyak bicara soal Vol. 5. Tetapi melihat antusiasme peserta yang memenuhi jalanan Minggu sore itu, satu hal terasa jelas: Rock on the Street sudah bukan sekadar acara seremoni belaka, namun kegiatan ini telah menjadi ruang temu bagi banyak orang yang ingin berjalan bersama dalam langkah yang berbeda-beda, tetapi dalam frekuensi yang sama.***(Ade)



