IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Bertahun-tahun warga Desa Sajau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, hidup berdampingan dengan rasa cemas setiap kali harus menyeberangi sungai menggunakan jembatan gantung tua yang mulai rapuh dimakan usia.
Jembatan itu menjadi satu-satunya penghubung bagi tiga RT menuju pusat desa, sekolah, hingga akses pengangkutan hasil kebun masyarakat.
Namun kondisinya yang sudah tua membuat warga harus ekstra hati-hati setiap melintas.
Jika terlalu banyak warga berjalan bersamaan, jembatan akan bergoyang cukup kuat.
Anak-anak sekolah, ibu-ibu hingga para petani kerap memilih berjalan perlahan sambil bergantian agar jembatan tidak terlalu terbebani.
“Kalau ramai yang lewat, kami biasanya antre pelan-pelan. Kadang anak-anak takut karena jembatannya bergoyang,” cerita Nurhayati, seorang ibu rumah tangga di Sajau Hilir.
Ia mengaku rasa waswas selalu menghantui setiap kali anaknya berangkat sekolah, terlebih saat hujan turun dan papan jembatan menjadi licin.
“Sebagai orang tua pasti takut. Tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya jalan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kini rasa takut itu perlahan hilang. Setelah dilakukan perbaikan dan pembangunan oleh TNI melalui Korem 092/Maharajalila dan Kodim 0903/Bulungan, Jembatan Perintis Garuda kembali berdiri kokoh dan dapat dilalui masyarakat dengan lebih aman.

Pemandangan yang dulu penuh kecemasan kini berubah menjadi senyum dan tawa anak-anak yang berjalan menuju sekolah tanpa rasa takut.
“Terima kasih bapak Presiden. Terima kasih bapak Danrem. Terima kasih bapak Dandim. Sekarang kami sudah tidak takut lagi melintas,” ujar Nurhayati.
Ucapan serupa datang dari para pelajar yang setiap hari menjadi pengguna utama jembatan tersebut.
“Dulu kalau lewat harus gantian dan pelan-pelan. Sekarang lebih nyaman dan aman,” ucap Rahman, seorang pelajar SMP di Sajau Hilir.
Baginya, jembatan itu bukan hanya tempat melintas, tetapi jalan menuju masa depan dan pendidikan yang lebih baik.
Kepala Desa Sajau Hilir, Syahrir menyebutkan bahwa keberadaan Jembatan Perintis Garuda sebagai denyut kehidupan masyarakat desa. Sebab hampir seluruh aktivitas warga bergantung pada akses penghubung tersebut.
“Jembatan ini adalah jantung masyarakat kami. Kalau akses terganggu, maka sekolah terganggu, ekonomi masyarakat juga terganggu,” katanya.
Ia menuturkan, selama bertahun-tahun masyarakat hanya bisa berharap ada perhatian untuk memperbaiki jembatan yang kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga akhirnya harapan itu dijawab melalui kerja cepat dan gotong royong TNI bersama masyarakat.
“Terima kasih bapak Presiden Republik Indonesia, terima kasih bapak Danrem Brigjen TNI Mohammad Sjahroni dan bapak Dandim Kolonel Inf Dhuwi Hendradjaja yang sudah membantu masyarakat kami,” ujarnya.
Kini saat matahari mulai tenggelam di Sajau Hilir, suasana di atas jembatan tak lagi dipenuhi rasa takut. Anak-anak berlari kecil sambil tertawa, ibu-ibu membawa hasil kebun dengan tenang, sementara para petani bisa melintas tanpa khawatir jembatan akan bergoyang hebat seperti dulu.
Bagi masyarakat Sajau Hilir, Jembatan Perintis Garuda bukan hanya sekadar penghubung dua sisi sungai. Ia adalah penghubung harapan, pendidikan dan kehidupan yang selama ini mereka perjuangkan dengan penuh keterbatasan.***(Ronny Meranda)



