IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang ramah bagi semua kalangan dengan menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara. Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusif, guna memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan sejak usia dini.
Bunda PAUD Bulungan, Sri Nurhandayani menegaskan, kerja sama ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk membangun sistem pendidikan yang benar-benar inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, seluruh anak di Bulungan, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), harus mendapatkan akses pendidikan yang setara tanpa diskriminasi.
“Pendidikan inklusi tidak cukup hanya menyatukan anak dalam satu ruang kelas. Harus ada sistem pendukung yang kuat, mulai dari tenaga pendidik yang kompeten hingga pendekatan pembelajaran yang tepat. Kita ingin memastikan tidak ada satu pun anak di Bulungan yang tertinggal,” ujarnya, minggu (05/04/26).
Ia menjelaskan, konsep pendidikan inklusif yang diusung tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup dukungan psikologis, sosial, dan emosional anak. Karena itu, keterlibatan tenaga profesional dari HIMPSI dinilai sangat krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar ramah anak.
Dalam implementasinya, HIMPSI Kaltara akan memberikan pelatihan intensif serta pendampingan berkelanjutan kepada tenaga pendidik PAUD. Program ini mencakup peningkatan kapasitas guru dalam memahami karakteristik anak, teknik identifikasi dini terhadap kebutuhan khusus, hingga metode pembelajaran adaptif yang sesuai dengan perkembangan masing-masing anak.
“Kehadiran psikolog sangat penting, terutama dalam mendeteksi sejak dini anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan begitu, intervensi pendidikan bisa dilakukan lebih cepat, tepat, dan terarah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sri menekankan bahwa kualitas guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan inklusif. Guru tidak hanya dituntut mampu mengajar, tetapi juga harus memiliki sensitivitas dan pemahaman mendalam terhadap kondisi setiap peserta didik.
“Guru harus mampu melihat anak secara utuh, bukan hanya dari sisi akademik. Dengan begitu, proses pembelajaran benar-benar berdampak dan membantu anak berkembang sesuai potensinya,” tambahnya.
Pemkab Bulungan juga menargetkan terbentuknya ekosistem PAUD yang inklusif dan berdaya saing, di mana setiap satuan pendidikan mampu menyediakan layanan yang aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Hal ini sejalan dengan visi daerah dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul sejak usia dini.
Tak hanya itu, pendidikan inklusif juga diharapkan mampu menanamkan nilai empati, toleransi, dan kebersamaan sejak dini kepada anak-anak, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Bulungan bersama HIMPSI Kaltara akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan program ini.
Evaluasi tersebut mencakup efektivitas pelatihan guru, penerapan metode pembelajaran, hingga dampaknya terhadap perkembangan anak di lapangan.
“Kami ingin program ini tidak berhenti di awal saja, tetapi terus berjalan dan memberikan manfaat nyata. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak Bulungan,” tutupnya.***(IBM02)



