• Tentang Kami
  • Iklan & Advetorial
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
IBMNews.co.id
Advertisement
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini
No Result
View All Result
IBMNews.co.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
  • Liputan Khusus
  • Opini

Potongan Pizza Terakhir: Kisah-Kisah Dari Pembantaian Di Restoran Thai Di Gaza

by Redaksi
10/05/2025
in Internasional
A A

IBMNews.com, Jalur Gaza – Di kota yang tertidur oleh raungan pesawat dan terbangun oleh dentuman bom, tak ada lagi yang utuh.

Masa kanak-kanak hilang sebelum sempat mekar, kebahagiaan menjadi barang langka, bahkan sesuap makanan kini menjadi bagian dari perjuangan hidup.

Baca Juga

Warga Gaza shalat tarawih di reruntuhan masjid

Hari pertama Ramadhan, Israel membunuh 2 warga Gaza

Israel Lancarkan 57 Serangan Terhadap Jurnalis Palestina Sepanjang November

Di setiap sudut wilayah yang terkepung ini, tumbuh kisah-kisah nestapa. Cerita-cerita itu tertulis dengan air mata para ibu dan darah warga sipil yang tak bersalah.

Agresi militer Israel terus melaju, dan setiap hari menorehkan bab baru dalam buku luka rakyat Gaza.

Salah satu bab termutakhir terjadi di sebuah restoran sederhana di barat Kota Gaza. Bukan sekadar statistik korban, tragedi ini memperlihatkan wajah manusia dari perang yang tak kenal belas kasihan.

Berikut adalah fragmen-fragmen pilu dari serangan di Restoran Thai, yang akan tetap hidup dalam ingatan, sebagai saksi luka yang belum sembuh.

Pelukan pertama yang menjadi perpisahan terakhir

Yahya Subaih, seorang jurnalis Palestina, baru saja menyambut kelahiran anak perempuannya.

Diunggahnya sebuah foto yang memperlihatkan ia mendekap bayi mungil itu di pelukannya—sebuah momen bahagia yang tak bertahan lama.

Hanya berselang beberapa jam, Yahya gugur dalam serangan udara Israel yang menghantam Restoran Thai di Gaza.

Foto itu menjadi saksi bisu: sang bayi, yang mungkin belum sempat diberi nama resmi, kehilangan ayahnya di hari pertama kehidupannya.

“Ulang tahun pertamanya adalah hari ia menjadi yatim. Foto pertamanya bersama ayahnya adalah juga yang terakhir,” tulis salah seorang warganet Palestina.

Yang terjadi dalam setengah hari itu adalah rangkuman kehidupan: kelahiran, kehilangan, kenangan, pertemuan, dan perpisahan. Semua dalam waktu yang begitu singkat.

Pizza terakhir dan impian yang tak sempat terwujud

Seorang karyawan restoran mengenang dua gadis muda yang datang memesan pizza. Ia masih ingat percakapan mereka:

“Ah, mahal banget,” kata salah satu.

“Ya udah, kita makan pizza dulu sebelum mati, siapa tahu gak sempat lagi,” jawab temannya.

Ia kemudian mengetahui salah satu dari mereka meninggal dalam serangan tersebut. Nasib temannya masih belum jelas.

“Ini bukan adegan film. Ini Gaza. Di sini, mimpi hanyalah sepotong pizza, dan takdir datang dalam bentuk rudal,” tulis seorang pengguna media sosial.

Penjual kopi kecil yang tak kembali

Seorang bocah lelaki, mungkin belum genap sepuluh tahun, setiap hari menyusuri jalan-jalan Gaza membawa ceret kopi dan cangkir-cangkir plastik.

Bukan untuk bermain, melainkan membantu keluarganya bertahan di tengah blokade dan krisis pangan yang mendera Gaza.

Ia kerap terlihat di sekitar Restoran Thai hingga suatu hari, rudal menghantam. Darahnya bercampur dengan kopi yang masih panas.

Pelanggan-pelanggannya, para pejalan kaki berubah menjadi korban, antara yang gugur dan terluka.

Sebuah video memilukan memperlihatkan seorang gadis memeluk tubuh bocah itu, cangkir kopi masih tergenggam di tangannya. Darah mengalir dari kepalanya. Sebuah fragmen kecil dari kekejaman yang lebih besar.

Noah dan ulang tahun yang terakhir

Noah Daoud Al-Saqa, bocah lelaki dari Gaza, baru saja merayakan ulang tahunnya.

“Ini hari terbaik dalam hidupku!” katanya dengan tertawa lebar.

Keluarganya mengabadikan momen itu dalam video yang kemudian menyebar luas di media sosial.

Tak sampai sehari kemudian, serangan ke Restoran Thai merenggut nyawanya. Kegembiraan yang langka itu berubah menjadi perpisahan selamanya. Gelak tawanya menghilang, tertimbun reruntuhan.

“Piring itu seharusnya milik saya”

Seorang perempuan yang biasa menyelesaikan pekerjaannya di Restoran Thai menulis kesaksian di media sosial.

“Saya duduk di aula, tiga meja dari titik ledakan. Saat itu suasana biasa. Lalu, tiba-tiba: teriakan, asap, bau mesiu yang saya kenal, serpihan kaca, orang-orang berlarian.”

Seorang lelaki di dekatnya menyentuh tubuhnya sendiri dan berseru panik.

“Kak, lihat, ada yang aneh gak di badan saya?” katanya.

Ia terhuyung karena syok. Ambulans berdatangan.

“Piring itu disiapkan untuk saya… sebelum semuanya berubah jadi jeritan. Di negeri kematian, tak ada tempat yang benar-benar tenang,” tutupnya.

Pernikahan yang tak pernah terjadi

Di tengah segala nestapa, beredar sebuah pesan singkat yang membuat hati tercekat. Keluarga calon pengantin di Gaza mengirimkan pesan kepada para tamu.

“Kami mohon maaf. Pernikahan dibatalkan karena calon pengantin pria telah gugur,” pesannya.

Pesan itu, menurut para warganet, benar-benar dikirimkan oleh keluarga yang tengah bersiap menggelar pesta. Tetapi maut lebih cepat datang.

Gaza, hidangan terakhir bisa jadi hidup yang terakhir

Tragedi di Restoran Thai hanyalah satu dari sekian banyak yang terjadi setiap harinya di Gaza. Di sana, hal-hal biasa seperti memesan makanan, merayakan ulang tahun, bekerja di kedai, atau sekadar duduk diam dapat berubah menjadi peristiwa terakhir dalam hidup.

Gaza terus menulis kisahnya sendiri, dalam darah dan air mata. Dunia mencatat, tetapi pertanyaannya tetap: sampai kapan luka ini akan dibiarkan menganga?***(Source : Gaza Media Channel)

 

Terkait

Next Post
11 Warga Gaza Yang Dibebaskan Israel Langsung Dilarikan Ke Rumah Sakit

11 Warga Gaza Yang Dibebaskan Israel Langsung Dilarikan Ke Rumah Sakit

Seorang Warga Palestina Gugur, Puluhan Terluka Dalam Serangan Militer Israel Fi Nablus

Seorang Warga Palestina Gugur, Puluhan Terluka Dalam Serangan Militer Israel Fi Nablus

Berita Terlaris

  • Ramadan yang Penuh Haru, Datu Idris Berpulang Saat Menjadi Imam Salat Magrib

    Ramadan yang Penuh Haru, Datu Idris Berpulang Saat Menjadi Imam Salat Magrib

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria 40 Tahun Ditemukan Meninggal di Sungai Kayan, Keluarga Tolak Visum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Bulungan Lantik Adi Irwansyah sebagai Inspektur, Perkuat Pengawasan Pemkab Hadapi Audit BPK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nama BL Disebut oleh Sejumlah Saksi, Kritikus Anti Korupsi Justru Berada dalam Pusaran Kasus Korupsi Proyek ASITA?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KORMI Bulungan Resmi Dilantik, Integrasikan Olahraga dengan Pariwisata dan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Iklan & Advetorial
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
redaksi@ibmnews.co.id

© 2026 PT. PRAKARSA MEDIAKU NUSANTARA

No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini

© 2026 PT. PRAKARSA MEDIAKU NUSANTARA