IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Tidak ada perayaan mewah, hanya doa, ucapan hangat, dan rasa syukur yang mengalir. Di usianya yang ke-48 tahun, Sekretaris Provinsi Kalimantan Utara, H. Denny Harianto, memilih memaknai hari kelahirannya sebagai ruang jeda—untuk melihat ke dalam, sekaligus meneguhkan kembali arah pengabdian.
Rabu, 25 Maret, menjadi hari yang istimewa, bukan karena seremoni, melainkan karena refleksi. Di tengah rutinitas pemerintahan yang padat, momen ulang tahun itu justru diisi dengan kesadaran akan tanggung jawab yang semakin besar sebagai pelayan masyarakat di Bumi Benuanta.
Ucapan selamat dan doa datang silih berganti. Dari rekan kerja, jajaran pemerintah daerah, hingga tokoh masyarakat—semuanya mengalirkan harapan yang sama: agar Denny senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah.
Namun bagi Denny, yang paling penting bukanlah jumlah ucapan, melainkan makna di balik perjalanan hidup yang telah dilalui.
“Alhamdulillah, ini menjadi momen untuk introspeksi diri dan memperkuat niat dalam memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat Kalimantan Utara,” ujarnya dengan nada tenang.
Di balik ucapannya, tersirat kesadaran bahwa usia bukan sekadar angka. Ada tanggung jawab yang terus bertambah, seiring kepercayaan yang diberikan. Sebagai Sekprov, perannya tidak hanya administratif, tetapi juga strategis—menjembatani visi pimpinan daerah dengan realisasi di lapangan.
Baginya, setiap kebijakan yang berjalan bukan hanya soal program, tetapi tentang dampak nyata bagi masyarakat.
Ia pun menyelipkan doa sederhana, namun penuh makna.
“Saya berdoa, di sisa umur ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat Kalimantan Utara. Semoga setiap langkah yang dijalani mendatangkan kebaikan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat,” ungkapnya.
Di tengah dinamika pembangunan daerah, Denny menjadi salah satu motor penggerak dalam memastikan roda pemerintahan tetap berjalan selaras. Bersama Gubernur dan Wakil Gubernur, ia terus mendorong peningkatan pelayanan publik, percepatan pembangunan, hingga penguatan tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Usia 48 tahun, bagi sebagian orang mungkin adalah titik nyaman. Namun bagi Denny Harianto, ini justru menjadi pengingat—bahwa pengabdian belum selesai. Masih ada harapan masyarakat yang perlu dijawab, masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan.
Dan di hari itu, di antara doa-doa yang dipanjatkan, terselip satu tekad yang semakin menguat: menjadi lebih bermanfaat, bagi daerah yang ia cintai.***(Randa)


