• Tentang Kami
  • Iklan & Advetorial
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
IBMNews.co.id
Advertisement
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini
No Result
View All Result
IBMNews.co.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
  • Liputan Khusus
  • Opini

Minta Aparat Bersikap Bijaksana, Adama : Aparat Kita Harap Tidak Tangkap Petani yang Membeli Pupuk Malaysia

by Redaksi
25/07/2025
in Parlementer
A A

IMBNews.com, Nunukan – Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Adama, meminta aparat penegak hukum untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi petani yang membeli pupuk dari Malaysia. Ia menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara proporsional, tanpa tindakan sewenang-wenang seperti penangkapan yang tidak melalui pendekatan humanis.

“Pupuk subsidi sangat terbatas, jadi sebagian besar petani sayuran beli pupuk produk Malaysia. Memang kalau bicara hukum pasti salah karena melanggar aturan,” kata Adama pada, Senin 30 Juni 2025.

Baca Juga

Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Nunukan Atas Raperda Pajak dan Retribusi

DPRD Nunukan Nilai PT NBS Telah Melecehkan Lembaga Rakyat, Ini Alasannya!

Perubahan Perda Pajak dan Retribusi Resmi Disetujui oleh DPRD Nunukan

Adama menuturkan, tingginya penggunaan pupuk Malaysia, di kalangan petani menandakan semakin berkembangnya tanaman hortikultura di wilayah perbatasan Nunukan. hal ini sejalan dengan program ketahanan pangan.

Selain terbatasnya pupuk urea subsidi yang disiapkan pemerintah, keputusan petani menggunakan pupuk Malaysia, didasari atas kualitas pupuk yang sangat cocok untuk pertumbuhan dan kesuburan tanaman buah.

“Harga pupuk Malaysia dijual RM 300 atau setara Rp 1 juta, sedangkan pupuk subsidi sekitar Rp 166 ribu. Meski pupuk Malaysia mahal, tapi secara mutu cocok untuk hortikultura,” sebutnya.

Rata-rata petani kelapa sawit maupun sayuran di Nunukan, adalah eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) Malaysia, yang telah terbiasa menggunakan pupuk Malaysia dan mengetahui persis kualitas pupuk tersebut.

Terhadap kondisi ini, Adama meminta instansi Kepolisian dan aparat penegak lainnya bisa lebih bijak atau setidaknya memberlakukan kearifan lokal terhadap masuknya pupuk Malaysia di Nunukan.

“Lain cerita kalau pupuk dibeli banyak lalu dibawa keluar untuk dijual. Kami mengaku pembelian pupuk Malaysia, adalah pelanggaran karena ilegal,” ujarnya.

Tidak hanya terbatasnya pupuk subsidi, petani Nunukan mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk non subsidi yang biasanya dijual Rp 600.000 per 50 kilogram. Keterbatasan stok pupuk ini dikuatirkan menurunkan minat petani untuk berkebun.

Sebenarnya, lanjut Adama, pupuk non subsidi penyubur tanaman kualitas setara dengan pupuk Malaysia, telah diproduksi di Indonesia, hanya saja pupuk jenis ini belum beredar atau dijual di Nunukan.

“Saya pernah studi banding ke Makassar, disana petaninya gunakan pupuk penyubur yang kualitasnya sama dengan Malaysia. Seandainya pupuk itu masuk Nunukan, pasti petani tidak lagi menggunakan pupuk Malaysia,” bebernya.

Terbentuknya koperasi merah putih di sejumlah desa diharapkan dapat menjembatani petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk. Koperasi bisa sebagai wadah menyiapkan pupuk sesuai kebutuhan petani.

Terlepas dari itu, Adama menyarankan pemerintah daerah mendata ulang jumlah kelompok petani serta kebutuhan pupuk subsidi. Selama ini, petani mendapatkan jatah pupuk yang jauh dari kebutuhan.

“Pupuk urea lebih cocok ke tanaman padi. Kalau bisa nantinya koperasi merah putih penyiapan pupuk penyubur tanaman hortikultura,” tuturnya.

Terkait

Tags: AdamaDPRD Nunukan
Next Post
DPRD Nunukan Minta Afirmasi dan Pemerataan Pembangunan di Wilayah Pelosok

DPRD Nunukan Minta Afirmasi dan Pemerataan Pembangunan di Wilayah Pelosok

KI Kaltara Bongkar Aib Ijazah Palsu: Dorong Verifikasi Administratif Oleh Bawaslu

KI Kaltara Bongkar Aib Ijazah Palsu: Dorong Verifikasi Administratif Oleh Bawaslu

Keanggotaan SMSI

Berita Terlaris

  • ALOK Kaltara Kecam Penolakan Dakwah UAS di Minahasa, Ingatkan Pentingnya Persatuan dan Toleransi

    ALOK Kaltara Kecam Penolakan Dakwah UAS di Minahasa, Ingatkan Pentingnya Persatuan dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukan Cuma Penyakit Lansia: Mengapa Anak Muda Zaman Sekarang Rentan Terkena Serangan Jantung?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aliansi Ormas Kaltara Soroti Upaya Damai Kasus Dugaan Penculikan dan Penganiayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ALOK Apresiasi Polrestabes Makassar dan Gubernur Kaltara atas Penanganan Kasus Mahasiswi Korban Kekerasan Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rock on the Street Vol. 4: Ribuan Langkah, Satu Frekuensi, Menyatu Seirama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Iklan & Advetorial
  • Pedoman Penulisan
  • Pedoman Media Siber
redaksi@ibmnews.co.id

© 2026 PT. PRAKARSA MEDIAKU NUSANTARA

No Result
View All Result
  • Home
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Sport
    • Kuliner
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Nasional
    • Internasional
    • Investigasi
  • Opini

© 2026 PT. PRAKARSA MEDIAKU NUSANTARA