IBMNews.co.id, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten Bulungan menegaskan arah pembangunan daerah lima tahun ke depan berpijak pada lima misi yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Bulungan, Iwan Sugiyanta, menjelaskan, lima misi tersebut merupakan turunan dari visi Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang menjadi dasar mencapai sasaran utama pembangunan daerah.

“Lima misi itu kita ambil dari RPJMD. Pemerintah daerah, dalam hal ini bupati dan wakil bupati terpilih, memiliki visi yang menjadi dasar menuju sasaran utama pembangunan. Nah, untuk mewujudkan visi itu, strateginya dijabarkan melalui lima misi,” ujarnya.
Ia menyebutkan, lima misi tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan infrastruktur, serta tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Seluruh perangkat daerah, kata dia, wajib menyelaraskan program kerja dengan misi tersebut.
“Itu menjadi strategi yang harus dilakukan seluruh perangkat daerah, termasuk dukungan masyarakat. Kalau ingin Bulungan menjadi daerah unggul, maka lima misi itu harus dijalankan secara konsisten,” tegasnya.
Tak hanya berbasis misi, perencanaan pembangunan Bulungan juga dibagi dalam lima koridor strategis berdasarkan karakteristik dan potensi wilayah.
Menurut Iwan, pembagian koridor tersebut telah melalui kajian akademik dan pendekatan berbasis potensi daerah.
“Kita membagi lima koridor berdasarkan karakteristik potensi wilayah. Sebelum menetapkan itu, sudah dilakukan kajian secara akademik sehingga potensi yang ada di wilayah tersebut menjadi satu klaster,” jelasnya.
Ia menuturkan, pendekatan koridor dilakukan untuk efisiensi pendanaan sekaligus mempercepat pencapaian sasaran pembangunan.
“Kenapa ini harus dilakukan? Pertama untuk menghemat pendanaan. Kedua, agar tujuan atau sasaran yang akan diwujudkan bisa lebih cepat tercapai. Sehingga perlu kolaborasi, baik dengan mitra strategis maupun pihak di luar pemerintah,” katanya.
Pembagian Wilayah Berdasarkan Potensi
Dalam skema tersebut, Tanjung Selor dan Tanjung Palas ditetapkan sebagai koridor perkotaan. Wilayah ini dinilai memiliki karakteristik kawasan jasa dan pertumbuhan ekonomi berbasis layanan.
“Tanjung Selor dan Tanjung Palas menjadi strategi perkotaan karena berada dalam satu hamparan kawasan. Pertumbuhan ekonominya berkembang di sektor jasa seperti perdagangan, transportasi, perhotelan, rumah makan hingga pariwisata,” paparnya.
Sementara itu, Bunyu, Tanah Kuning, dan Salim Batu masuk dalam koridor pesisir karena berbatasan langsung dengan laut serta memiliki potensi mangrove dan perikanan.
Adapun Pesok, Pesok Hilir, Tanjung Palas Barat hingga Antutan dikelompokkan dalam satu klaster tersendiri sesuai karakteristik wilayahnya. Sedangkan Sekatak dan Tanjung Palas Utara diarahkan sebagai kawasan pertanian dan peternakan.
“Konsepnya untuk mendekatkan layanan dan membuat masyarakat fokus dalam pengembangan sektor unggulannya masing-masing,” jelas Iwan.
Ia mencontohkan, dengan pendekatan koridor, perangkat daerah lebih mudah menentukan lokasi intervensi program.
“Misalnya Dinas Perikanan, tentu lebih tepat intervensinya di koridor pesisir. Kalau mau intervensi besar di Tanjung Selor tentu terkendala lahan. Hal-hal seperti itu sudah diarahkan dalam pembagian koridor,” pungkasnya.***(RM)


