IBMNews.co.id, Tarakan — Tiga klub taekwondo asal Kota Tarakan, Legiun, RRI, dan Gladiator, sukses menyita perhatian publik dalam ajang Taekwondo Championship Auto Fest Series 4 yang digelar di kawasan Bandara Juwata Tarakan selama dua hari, 2–3 Februari 2026. Kejuaraan yang dikolaborasikan dengan festival otomotif ini menjadi oase di tengah dahaga masyarakat akan event taekwondo yang telah lama vakum di Tarakan.
Pendiri sekaligus pelatih Gladiator Taekwondo, Herwinda Rahmawahyuni, S.Hut, menegaskan bahwa kejuaraan tersebut merupakan inisiatif murni para pelatih dan pegiat taekwondo lokal, bukan program resmi dari kepengurusan. Event ini digagas sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pembinaan atlet, sekaligus upaya memasyarakatkan taekwondo kepada publik luas.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Orang tua dan anak-anak datang berbondong-bondong karena memang sudah bertahun-tahun Tarakan tidak punya event taekwondo. Dari kegelisahan itu, kami para pelatih Legiun, RRI, dan Gladiator berinisiatif bergerak, meski persiapan hanya dua minggu,” ujar Winda.
Ia menyebutkan, dukungan orang tua atlet bahkan mulai menarik minat sponsor untuk terlibat pada agenda ke depan. Kejuaraan ini pun direncanakan menjadi agenda rutin setiap empat hingga enam bulan, dengan kalender kegiatan yang telah disusun untuk satu tahun ke depan.
Namun di balik suksesnya event tersebut, Winda melontarkan kritik keras terhadap minimnya peran dan perhatian pengurus taekwondo setempat. Menurutnya, jika pembinaan atlet hanya bergantung pada agenda resmi pengurus, maka perkembangan prestasi akan berjalan sangat lambat.
“Kalau hanya menunggu program pengurus, bisa setahun atau bahkan dua tahun sekali baru ada kejuaraan. Atlet tidak bisa tumbuh dengan sistem seperti itu. Menang Alhamdulillah, kalah pun harus menunggu lama lagi untuk evaluasi,” tegasnya.
Sebagai pelatih berlisensi nasional yang atlet-atletnya rutin berlaga di tingkat daerah, nasional, hingga internasional, Winda menegaskan bahwa intensitas kompetisi adalah kunci pembentukan mental juara.
“Perbedaannya sangat terlihat. Anak yang sering bertanding jauh lebih matang, baik dari mental, teknik, pola bermain, hingga kepercayaan diri. Semua itu lahir dari kompetisi, bukan dari wacana,” jelasnya.
Lebih jauh, Winda menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap sistem kepengurusan yang dinilai tidak berjalan profesional. Ia menyoroti banyaknya dojang aktif dengan atlet potensial yang selama bertahun-tahun tidak mendapatkan SK kepelatihan secara resmi.
“Ini miris. Sangat miris. Pelatih aktif, atlet berprestasi, tapi SK tidak pernah diberikan. Sejak dulu pengurus bukannya fokus membuat program, malah sibuk mencari kesalahan. Ketika ada persoalan besar, justru digantung dan seolah ditutup mata,” katanya.
Ia mengibaratkan kepengurusan seperti kendaraan yang sudah disediakan, tetapi tidak mampu dijalankan oleh pengemudinya.
“Mau jadi pengurus, tapi tidak bisa mengurus. Itu yang lebih memprihatinkan,” ujarnya lugas.
Meski dikenal sebagai salah satu senior taekwondo di Tarakan dan pernah terlibat dalam kepengurusan lama, Winda menegaskan tidak memiliki ambisi jabatan. Menurutnya, berada di luar struktur justru membuatnya lebih leluasa merangkul pelatih-pelatih aktif yang selama ini terpinggirkan.
“Saya tidak gila jabatan. Alhamdulillah, tanpa jabatan saya justru bisa merangkul teman-teman pelatih yang dojangnya hidup, atletnya ada, dan prestasinya nyata,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai peringatan keras demi perbaikan sistem pembinaan taekwondo di Tarakan dan Kalimantan Utara secara umum.
“Pengurus tanpa pelatih itu fiktif. Pelatih tanpa atlet juga tidak ada artinya. Jadilah pengurus yang amanah, berakhlak baik, ber-attitude, dan mampu merangkul semua pihak,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Winda menyampaikan harapan agar seluruh pihak mampu bercermin dan mengambil sisi positif dari kritik yang disampaikan.
“Ada pepatah yang saya pegang: jika menasihati orang bodoh, dia akan tersinggung. Jika menasihati orang pandai, dia akan merenung. Silakan menilai diri masing-masing. Semua kritik ini murni untuk perubahan dan kemajuan bersama. Harapan kami, taekwondo Tarakan ke depan bisa jauh lebih baik,” pungkasnya.***(IBM02)


