IBMNews.co.id, Tarakan – Koperasi Merah Putih Kelurahan Selumit di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, hadir sebagai penopang ekonomi warga. Dengan menyediakan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng dengan harga terjangkau, koperasi ini telah menjadi harapan nyata peningkatan kesejahteraan di tingkat kelurahan. Namun, di balik statusnya sebagai koperasi percontohan yang diresmikan Presiden, ternyata tersimpan perjuangan berat para pengurusnya yang harus merogoh kocek pribadi untuk menjaga denyut nadi koperasi ini.
Ketua Bidang Usaha Koperasi Merah Putih Selumit, H. Hamdani, mengungkapkan bahwa status percontohan tingkat kota dan provinsi justru tidak dibarengi dengan kepastian dukungan permodalan dari pemerintah pusat.

“Kami dituntut berjalan optimal, tapi dukungan permodalan dari pusat belum jelas sejak awal,” kata Hamdani.
Padahal, manfaat koperasi ini bagi warga Selumit dan sekitarnya sangat nyata. Sejak berdiri, masyarakat merasakan kemudahan mengakses beras SPHP, beras premium, dan sembako lain dengan harga stabil, menjadi penyeimbang di tengah fluktuasi pasar. Inilah yang menjadi alasan utama para pengurus bertekad bulat untuk mempertahankan koperasi ini agar terus bisa melayani masyarakat yang sudah begitu terbantu.
Awalnya, koperasi ini dijanjikan akses pinjaman bank hingga Rp3-5 miliar. Namun, janji itu tak kunjung terealisasi. Akibatnya, untuk menjaga operasional, para pengurus terpaksa mengeluarkan modal pribadi yang hingga kini telah menembus angka lebih dari Rp200 juta. Pengorbanan ini dilakukan semata-mata agar koperasi tetap hidup dan terus menjadi solusi bagi warga.
“Komitmen kami satu: koperasi ini tidak boleh mati. Masyarakat sudah bergantung,” tegas Hamdani.
Berkat ketekunan itu, pelayanan koperasi terus berkembang. Dari yang awalnya hanya menebus 20 karung beras, kini mampu mendistribusikan beras SPHP hingga empat ton, ditambah beras premium.
Meski begitu, tantangan operasional tetap ada. Fluktuasi harga, keterbatasan kuota minyak goreng (hanya 5-10 dus/bulan), serta format kemasan beras dari Bulog yang tidak selalu sesuai kebutuhan harian warga (misalnya kemasan 5 kg), menjadi kendala sehari-hari. Menjelang Ramadan dan Idulfitri, keterbatasan ini semakin terasa.
Untuk berkembang lebih mandiri dan berdaya dampak luas, koperasi memiliki sejumlah rencana strategis, seperti menggarap distribusi pupuk non-subsidi. Namun, semua itu memerlukan suntikan modal yang signifikan, jauh di atas Rp3 miliar.
Kepercayaan dan manfaat yang telah dirasakan masyarakatlah yang menjadi bahan bakar bagi Koperasi Merah Putih Selumit untuk terus bertahan. Segala usulan dan permohonan dukungan permodalan telah disampaikan ke pihak terkait. Kini, para pengurus dan masyarakat berharap pemerintah memberikan kejelasan dan dukungan nyata, agar koperasi percontohan ini tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar bisa tumbuh menjadi pilar penggerak ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan bagi warga Tarakan.***(IBM02)


