IBMNews.com, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten Bulungan mengalokasikan anggaran sekitar Rp12,5 miliar untuk tahap penyelesaian akhir (finishing) Kebun Raya Bunda Hayati Tanjung Selor. Meski target peresmian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ditetapkan tahun ini, pihak pemerintah justru mempertimbangkan kebijakan pembatasan hingga penutupan sementara kawasan tersebut.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda Litbang) Kabupaten Bulungan, Ir. Iwan Sugianta, ST., MT., mengungkapkan, tingginya antusiasme masyarakat berkunjung telah menyebabkan kerusakan pada tanaman dan fasilitas, mengganggu proses pembangunan dan penataan vegetasi yang masih berlangsung.
“Secara umum, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Namun, ada sebagian oknum yang belum memiliki kepedulian, sehingga menimbulkan kerusakan. Misalnya, tanaman seperti anggrek ada yang diambil, potnya hilang, bunganya kosong,” tegas Iwan saat ditemui Jumat Pagi (30/01/26).
Kerusakan itu, lanjutnya, menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah selain fokus pada penyelesaian konstruksi fisik dan kegiatan penanaman. “Kalau aktivitas kunjungan terlalu banyak, dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan tanaman yang sedang kita tanam dan tata,” jelasnya.
Anggaran sebesar Rp12,5 miliar tersebut dialokasikan untuk menyelesaikan berbagai fasilitas pendukung. Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bulungan tengah membangun jembatan akses masuk, rumah BPU, musala, toilet, sekitar 10 unit gazebo, area labirin, embung kecil untuk area bermain anak, serta area pentas musik.
Di tengah proses pembangunan fisik yang masif ini, pemerintah justru menghadapi tantangan berupa aksi vandalisme dan ketidakpedulian pengunjung. Kondisi ini memaksa otoritas setempat mempertimbangkan langkah tegas.
Pemerintah masih mempelajari perkembangan di lapangan untuk menentukan apakah kebun raya akan ditutup sementara secara total atau hanya dibatasi jumlah pengunjungnya. Kebijakan final menunggu arahan pimpinan daerah.
“Nanti kita lihat perkembangannya, sesuai arahan pimpinan dan kondisi di lapangan,” pungkas Iwan.
Ia menekankan, langkah ini diperlukan untuk memastikan pembangunan fasilitas dan pertumbuhan tanaman dapat optimal, sehingga Kebun Raya Bunda Hayati benar-benar siap diresmikan sebagai ikon konservasi, edukasi, dan rekreasi yang berkelanjutan bagi masyarakat Bulungan dan Kalimantan Utara.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menyiapkan anggaran non-fisik untuk penyusunan buku vegetasi bersama BRIN, yang akan mendokumentasikan jenis-jenis tanaman, termasuk varietas yang dilindungi di kawasan tersebut.***(IBM02)


